KISAH MEMBANGUN IMAN

Dengan Doa dan Ucapan Syukur, kami mengantar Edwin pulang ke Surga
 
Pertengahan Juli 2002, Edwin ( si sulung ) merasa tangannya selalu kesemutan, selain itu kami melihat kondisi fisiknya mulai menurun, badan terasa sangat lelah, terutama pulang sekolah. Saat itu kami menganggap dia kecapaian karena baru naik kelas 1 SMP Domenico Savio, Semarang , salah satu sekolah favorit, jadi masih kesulitan adaptasi. Tapi ternyata kondisinya makin lama makin menurun, kami coba berbagai dokter yang ada di Semarang . Salah satu dokter menyarankan CT scan dan setelah kami lakukan , diperoleh diagnosa bahwa ada penciutan otak motoriknya, sehingga control motoriknya agak terganggu. Kami konsultasikan kebeberapa dokter, mereka tidak tahu nama penyakitnya terlebih lagi mengobatinya.
Melalui salah seorang dokter di RS Telogorejo, Semarang yang kontinyu merawat Edwin disarankan jika kita ingin tahu apa nama penyakitnya, untuk membawa Edwin ke Singapore , atas bantuan beliau juga lah kami menemukan kontak dengan dokter di NUH , Singapore .
 
Hasil dari analisa di NUH, sangat mengejutkan kami karena Edwin terkena penyakit Wilson Disease yang katanya penyakit ini sangat langka dan sampai saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan, dokter mendiagnosa Edwin hanya dapat bertahan 3 tahun saja.
Secara manusia kami tidak terima dan tidak rela hal ini menimpa Edwin, karena Edwin adalah yang terbaik yang kami miliki.Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, kami mencoba dokter lain yang mungkin bisa menyembuhkan Edwin, ternyata tidak ada yang bisa, dan semua obat, vitamin dan supplement yang kami berikan hanya untuk sekedar memberikan kesegaran bagi tubuh Edwin.Bahkan kebaktian penyembuhan kami datangi, ternyata juga tidak membawa hasil.
 
Saat itu yang kami bisa lakukan adalah merawat, mengasihi dan memberkati Edwin.Tiap hari rutinitas kami hanya merawat Edwin, karena dari kehari kesehatannya makin menurun dan hampir semua kegiatan harian harus dibantu. Kami melakukan semua itu sendiri , berdua dengan istri, memang banyak  teman yang menyarankan agar kami menggunakan jasa suster, tapi kami tahu bahwa yang dibutuhkan Edwin tidak hanya perawatan / bantuan saja tapi juga kasih sayang, hal itu juga sesuai dengan saran gembala kami yaitu “ inilah saatnya kami menyatakan kasih yang tulus terhadap Edwin”.
 
Tahun berlalu menjelang tahun ke 6, kami mulai merasa kecapaian, secara fisik & mental kami sudah tidak kuat, tapi setiap kali kami mengeluh pada Tuhan bahwa kami tidak kuat, Tuhan selalu memberikan kekuatan melalui siapa saja , bahkan yang tidak kami kenal sekalipun.Mereka datang kerumah kami memberi dukungan dan mendoakan kami.
Kami punya kelompok doa keluarga, yang tiap 1 minggu sekali mengadakan persekutuan serta kelompok ibu ibu yang berdoa tiap Senin siang. Setiap kali istri saya ditanya teman bagaimana keadaan Edwin, dia selalu menjawab yah begitulah, sedangkan kami kaum bapak, tiap hari saling mengirim ayat melalui SMS untuk saling menguatkan, hal ini berjalan hingga hari ini. Inilah salah satu sumber kekuatan kami.
 
Pada tanggal 14 Juli 2008, saat ada doa dirumah kami, istri saya sharing ke teman-teman bahwa saat ini kami betul betul tdk kuat, teman teman mendukung istri saya dalam doa, sore harinya saat saya pulang dari kantor, kami berdua merasa sudah betul betul tidak kuat, kami hanya bisa berseru pada Tuhan dalam doa.
Tanggal 17 malam, jam 22.30, saat istri saya  pergi kekamar mandi dibelakang, saya tanya bagaimana keadaan Edwin, dijawab sedang tiduran dikamar depan.Maka saya melanjutkan tidur dikamar belakang. Setelah selesai dari kamar mandi, istri saya kembali kekamar depan dan saya dikejutkan dengan teriakannya, saya langsung lari ke depan. Ternyata darah segar keluar dari mulut dan hidung Edwin, dengan cepat kami membersihkan semua darah yang ada dengan handuk dan air hangat.
Setelah selesai dibersihkan, kami melihat Edwin kesulitan bernafas. Saat itu kami bingung apa yang harus kami lakukan, kami berdoa, lalu kami ambil putusan untuk membawa Edwin ke Rumah Sakit Telogorejo.Setelah sampai di sana, oleh dokter jaga Gawat Darurat, langsung dibersihkan sisa darah yang ada didalam hidung serta tenggorokannya dan dipasangi infuse dan oxygen. Semalaman kami menjaga Edwin tanpa tidur bergantian dengan memperhatikan kondisinya.Kami sangat merasa kasihan terhadap kondisi Edwin & kami berdoa, mohon kekuatan dari Tuhan.
Pagi berlalu, sementara nafas Edwin belum begitu teratur,karena saran Dokter sampai sore hari kami tidak memberi makan. Setiap saat Edwin bilang ke kami untuk mengatakan ke suster bahwa Edwin mau pulang ( melalui bahasa isyarat, karena semenjak sakit Edwin tidak bisa bicara). Menjelang jam 16.00, kami melihat bahwa seluruh kaki Edwin sudah putih ke biru biruan, kami sekeluarga kumpul dan masing masing sempat meminta maaf ke Edwin. Saat jam 17.00 kami semua menangis karena kami merasa inilah saat Edwin harus pulang, tangisan kami tangisan kesedihan karena kami merasa belum siap.
 
Ternyata Tuhan berkehendak lain, nafasnya mulai normal kembali, sehingga kami bisa bernafas lega, karena melihat Edwin lapar dan minta makan, maka kami putuskan untuk memberi makan Edwin, walaupun dokter sebenarnya tidak mengijinkan karena kawatir makanan tersebut masuk ke saluran pernafasan sehingga menyebabkan gagal nafas. Setiap suap makanan yang kami masukkan selalu kami barengi dengan kata “ Dalam nama Yesus “. Malam harinya gembala sidang kami datang dan saat itu kami mengatakan bahwa kalau Edwin berpulang dengan cara seperti itu ( kesulitan bernafas, kami merasa tidak rela). Pendeta kami menyarankan tetap berdoa dan minta Tuhan memberi kekuatan, Tuhan  pasti memberikan yang terbaik, akhirnya malam berlalu tanpa ada kejadian khusus.
 
Hari Sabtu  tanggal 19 Juli 2008, seharian Edwin minta makan kolak pisang yang kami lembutkan dengan blender dan kami masukkan melalui suntikan sonde kemulutnya, hampir 2 sisir pisang dihabiskan sampai saat suapan terakhir, istri saya bilang ke Edwin ini kolak terakhir, kalau mau lagi, mami harus pulang dan buat dulu, Edwin ditinggal di Rumah Sakit sendirian mau tidak, Edwin bilang mami tidak boleh pulang.
Malam itu kondisi pernafasan Edwin naik turun, saturasinya yang seharusnya 100 % cuman 60 % bahkan pernah hanya 35 % saat kami melakukan suction untuk mengeluarkan lendir yang ada di tenggorokannya.
 
Hari Minggu banyak saudara dan teman yang menjenguk dan mendoakan Edwin. Menjelang sore jam 16.00 saat semua tamu sudah mulai pulang, kami minta oma Edwin untuk pulang juga, biar kami berdua yang menjaga Edwin.
Tepat jam 16.30, saat kami hanya bertiga dengan Edwin di kamar perawatan, ada dorongan dihati saya untuk mengajak istri untuk berdoa menghantarkan keberangkatan Edwin pulang kerumah Bapa, karena sejak awal kami tahu bahwa penyakit Edwin langka dan tidak ada obatnya, hanya ada 2 permintaan kami yaitu kami tidak mau Edwin pulang dengan kesakitan serta kami tidak ingin “kecolongan” artinya kami ingin mengantar sendiri Edwin pulang ke rumah Bapa.
 
Setelah saya selesai berdoa menyerahkan Edwin ke tangan Tuhan, ganti istri saya berdoa, dia mengatakan : Tuhan 18 tahun yang lalu kami menanti kehadiran Edwin di dunia ini, Edwin merespon dengan tersenyum, lalu dilanjutkan lagi hari ini 18 tahun kemudian kami mengantarkan Edwin pulang ke Surga, Edwin merespon lagi dengan tersenyum, dilanjutkan lagi Tuhan  inilah persembahan kami, buah sulung kami, kembali Edwin tersenyum. Saat itu Edwin masih sadar 100 %, setelah itu kami berdua bernyanyi lagu “ Ku masuk Ruang maha kudus, dengan darah Anak Domba” beberapa kali, kami tetap memegang tangan Edwin, kami lihat perlahan lahan nafas Edwin mulai lemah lalu 1, 2, dan 3… Edwin berhenti bernafas dengan tenang sekali seperti orang tidur. Saat itu juga setelah tahu Edwin sudah berpulang kami menangis dan berseru “Terima Kasih Tuhan karena kebesaran Mu kau ijinkan kami melihat mujizat Mu dengan mengantar Edwin pulang dengan nyanyian pujian dan doa ucapan
syukur”
Saat itu juga kami merasa beban yang telah hampir 6 tahun kami bawa terlepas begitu saja dengan seketika. Edwin telah berada dipangkuan Tuhan dan telah menyelesaikan pertandingannya, karena selama Edwin sakit, dia tidak pernah sekalipun mengeluh, padahal kami yang melihatnya merasa tidak tega.
Kami juga baru mengerti mengapa Tuhan baru mengambil Edwin sekarang, karena Tuhan  mempersiapkan kami untuk kuat menghadapinya.
 
Terima kasih Tuhan ternyata engkau begitu mengasihi kami.
 
Samuel - Anna


Advertisement
 
 
Today, there have been 2 visitors (3 hits) on this page!
=> Do you also want a homepage for free? Then click here! <=